Hari ini bukanlah pemilu yang pertama kali kuikuti. Seingatku, ikut pemilu pertama kali waktu SMU. Waktu itu bingung mau milih apa, jadinya ya ngikut aja pilihan orang tua, hehe..
Kalau ditanya tentang pemilu, tetap saja masih bingung.


Kajian yang pertama kali kuterima tentang pemilu (dan aku menyadari dampak yang sangat besar akan kajian yang pertama kali diterima – jadi, harus selektif meletakkan dasar) adalah penolakan atasnya.
• Demokrasi termasuk istilah baru yang muncul saat zaman renaissance. Dan jika ada istilah baru, maka kita harus tahu bagaimana penunjukan fakta terhadap istilah itu, karena perang terhadap Islam yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam juga mencakup perang terminologi atau istilah.
• Sejarah munculnya demokrasi adalah karena pada saat itu gereja sangat berkuasa sehingga menimbulkan banyak pertentangan, akhirnya terjadilah pemisahan urusan dunia dan agama, dan muncul faham kebebasan, kebebasan dalam hal apapun.
• Faham kebebasan ini ada dalam demokrasi.
–>Kebebasan berpendapat –> bebas buat aturan dan hukum –> bertentangan dengan Islam (dalam Islam, tidak ada yang berhak membuat hukum kecuali Allah)
–>Kebebasan bertingkah laku –> pergaulan bebas, gay, pornografi –>bertentangan dengan Islam (dalam Islam ada aturan tentang akhlaq/ tingkah laku)
–>Kebebasan kepemilikan –> boleh memonopoli, riba, dll –>bertentangan dengan Islam
dst
• Demokrasi (demos: rakyat, kratos: pemerintahan) = pemerintahan rakyat = suara rakyat adalah suara Tuhan  seperti Fir’aun gaya baru.
• Ciri menonjol dari demokrasi adalah keputusan diambil berdasar suara terbanyak, padahal dalam Al Qur’an dinyatakan “……, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.” (QS Al Mu’min: 59). Kalau kebanyakan manusia tidak beriman, bagaimana mungkin diambil suara terbanyak???
• Demokrasi juga meniadakan sifat Allah sebagai Hakim yang berhak membuat hukum dan memerintah.
• Dengan adanya syuro dalam Islam BUKAN BERARTI ada demokrasi dalam Islam. Karena harus dilihat (secara keseluruhan) apa itu demokrasi, Demokrasi mempunyai konsep sendiri yang berbeda dengan konsep Islam.
• Dan dari uraian di atas, dapat terjawab bagaimana menyikapi Pemilu sebagai ajang pesta demokrasi.

Lalu, setelah ikut kajian di tempat lain. Hehe…justru harakah ini adalah harakah yang mengusung partai politik sebagai salah satu kendaraan da’wahnya. Dan muncul argument serta penjelasan tentang parpol dan pemilu.
 Seperti mengganti air keruh yang ada dalam gelas, maka akan lebih mudah menuangnya lewat kekuatan dari bawah sambil mengisinya dengan air bersih dari atas (disbanding hanya dengan menggunakan kekuatan dari bawah).
 Kita berada dalam sistem, maka yang memiliki kemungkinan besar mengubah adalah dengan cara menempatkan orang dalam sistem tersebut.
 Mencoba mewarnai, dengan masuk ke dalamnya, bukan mewarnai dari luar saja.
 Kita adalah warga Negara yang terikat pada aturan Negara, jika tidak ada yang bersedia masuk ke dalam jajaran birokrasi atau politik untuk mengatur warga Negara, maka apakah rela diatur atau diurusi oleh orang-orang di luar kita?
 Jadi, melalui pemilu kita menentukan siapa yang akan menjadi wakil kita, jika kita ikut memilih, maka setidaknya kita ikut andil dalam mewarnai pemerintahan (yang akan membuat kebijakan untuk kita), berharap bahwa akan menimbulkan perubahan menjadi lebih baik.
 Namun jika kita tidak memilih, maka berarti kita tidak mau tahu dengan nasib kita sendiri, menyia-nyiakan hak untuk memilih saudara-saudara kita yang baik, dan seolah- olah justru memberi angin segar kepada mereka untuk memerintah kita.

Nah, jadi tambah bingung kan…
Sepertinya dua-duanya benar.
Jadi ingat lagunya Tere:
Tiada yang salah dengan perbedaan
dan segala yang kita punya
Yang salah hanyalah sudut pandang kita
yang membuat kita terpisah
Karena tak seharusnya
perbedaan menjadi jurang
Bukankah kita diciptakan
untuk dapat saling melengkapi
Mengapa ini yang terjadi
Mestinya perbedaan bukan alasan
untuk tak saling memahami
Harusnya kita bisa memberi jalan
tuk satukan semua harapan.