April 2009


Betapa Allah itu maha Kuasa.

Kuasa atas segala sesuatu.

Dan betapa kita sama sekali tidak punya kekuasaan apapun,

bahkan terhadap diri kita sendiri.

  (lebih…)

Iklan

Menghitung bulan, minggu, hari,
dalam harap-harap cemas,
dalam bahagia bercampur ragu,
masih belum pasti,
masih tak tahu endingnya,
tak tahu kejutan apa yang akan diterima.

Rabbana,
aku tak tahu kenapa,
semakin dalam ketakutan,
makin terasa berat beban dan kewajiban,
membuat makin tak mau tahu,
tak berani melongok ke dalam hati.

Rabbi,
jangan biarkan aku dalam kecemasan tiada berdasar ini,
bantu hambaMu tuk bangkit tegak menujuMu,
penuhilah hati ini dengan tawakkal dan ridho atas yang Kau anugerahkan untukku,

Rabbi,
sesungguhnya hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu,
bertemu untuk taat kepadaMu,
bersatu dalam rangka menyeru di jalanMu,
berjanji setia untuk membela syariatMu,
maka kuatkanlah ikatan pertaliannya Ya Allah,
abadikanlah kasih sayangnya,
tunjukilah jalannya,
dan penuhilah dengan cahayaMu yang tidak pernah redup,
lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepadaMu,
hidupkanlah dengan ma’rifahMu,
matikanlah dalam keadaan syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung,
dan sebaik-baik penolong.

Bagaimana jika menyadari bahwa akan kehilangan seseorang yang sangat berarti?
Yang telah lama membersamai,
yang telah sangat mengerti,
Meski mungkin ada yang mengganti,
namun tetap tak bisa terganti.

Meski mungkin lambat laun akan beradaptasi,
namun butuh waktu,
butuh keberanian,
butuh kemandirian, tuk hadapi.

Seperti mencabut sebatang pohon yang telah kokoh,
akan terasa berat dan menyakitkan,
akan meninggalkan bekas dan sisa akar,
yang dalam.

Namun waktu terus berjalan,
tak mungkin konstan.

Kenyataan harus dihadapi,
dengan lapang,
dengan jiwa besar.

Kehidupan telah digariskan.
Kita seperti kereta,
yang mengikuti rel.
Seperti air sungai,
yang mengikuti alurnya.
Lahir, menjadi balita, TK, SD, SMP, SMU, kuliah,
kerja, menikah, punya anak, cucu, menjadi tua,
meninggal…

Tlah diatur dengan sedemikian pas dan rapi olehNya,
dan kini tinggal melaluinya dengan bersandar pada aturanNya,
mengatur kecepatan kereta,
memilih jika ada percabangan,
kadang berhenti sejenak,
kadang me-repair jika ada yang tidak berfungsi,
mengangkut orang atau barang,
lalu menurunkannya jika tlah sampai tujuan,
berganti-ganti penumpang,
kepanasan,
kehujanan,
melihat pemandangan,
dan jika tlah sampai akhir perjalanan,
jika waktu tlah tiada tersisa,
maka akan teronggok,
meninggalkan beragam kenangan.
sobat

Nanas,
saat merangkai puzzle-puzzle dalam ruang hatiku.

Hari ini bukanlah pemilu yang pertama kali kuikuti. Seingatku, ikut pemilu pertama kali waktu SMU. Waktu itu bingung mau milih apa, jadinya ya ngikut aja pilihan orang tua, hehe..
Kalau ditanya tentang pemilu, tetap saja masih bingung.

(lebih…)

mujahadah

indah Dimanapun kita berada, sama saja,tetap di bumi Allah.
Namun, tak ada salahnya, jika memilih tempat yang dapat membantu kita tetap pada jalanNya Lingkungan dekat masjid, dekat dengan tetangga-tetangga yang sholih, kos atau kontrakan yang penghuninya adalah orang-orang hanif, tempat kerja yang memungkinkan bekerja dengan tenang dan lurus, tempat kuliah yang member manfaat dunia akhirat, dll yang baik. Tak ada salahnya memilih yang seperti itu.
Jika ada yang memilih tempat yang ‘menantang’, dengan harapan dapat mewarnainya dengan warna yang indah, itupun sungguh mulia.

(lebih…)

Wanita Sholihah itu……..

Pandai MENJAGA LISANNYA….
Menjauhi GHIBAH dan DUSTA…..
Pandai Menyimpan RAHASIA…….
Dia pandai MENGATUR HARTA….
Tidak suka BERFOYA-FOYA… HEMAT dan CERMAT….. dalam BERBELANJA…
Dia MENYEJUKKAN…. DI MATA suaminya…… Selalu Riang… dan PENUH CINTA……
SANTUN dan SOPAN dalam BERTUTUR KATA…. Hatimu tentram ketika MELIHATNYA…
Jiwamu senang ketika MEMANDANGNYA…
Masalahmu terpecahkan dg mendengar PENDAPATNYA….
Wanita Sholihah itu, Dialah PERHIASAN TERINDAH di dunia….
Penghias KEHIDUPAN suaminya…
“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah.” [Hadits Riwayat Ibn Majah]

Sungguh tiada seorang wanitapun yang tidak ingin menjadi perhiasan yang terindah di dunia,
Namun, tiada seorang wanitapun yang sempurna,
dia perlu ditempa, perlu sebuah proses menjadi mutiara,
perlu orang yang dengan sabar mendidik dan menasehati,
perlu dukungan dan motivasi.