Tadi, di Poli Kandungan, ada pasien yang datang dengan keluhan belum punya anak setelah menikah 8 tahun. Pasien ini punya riwayat pernah hamil 2 kali, namun dengan Blighted Ovum (fetus tak tampak), sehingga keduanya abortus (keguguran). Pola hubungan pasangan ini juga baik, tidak hidup terpisah (kenapa ditanyakan ini?) Karena yang dikatakan infertile (see: infertilitas) adalah bila pasangan suami istri tidak mampu mewujudkan konsepsi, hamil, hingga melahirkan bayi meskipun melakukan senggama teratur 2-3 kali seminggu paling sedikit 12 bulan tanpa proteksi) .

Setelah dicek lengkap, dari pihak istri tidak ditemukan kelainan apa-apa, baik hormone, kondisi vagina, serviks, ovarium, rahim dan tuba, dan dari hasil lab lainnya. Dari pihak suami, ternyata inilah masalahnya, Oligo Astheno Terato Zoospermia (kelainan sperma dalam hal jumlah, bentuk, dan motilitas).

Then, apa yang bisa dilakukan???

Pasien ini lalu dirujuk ke bagian Andrologi Surabaya, jadi …tak bisa mengikuti perkembangannya…

Tapi dari buku Kandungan YBPSP:

Penanggulangan air mani yang abnormal: Air mani yang abnormal yang bisa diperbaiki itu kalau disebabkan oleh varikokel (akan dioperasi), sumbatan (akan dioperasi vasoepididimostomi), infeksi (akan diobati), defisiensi gonadotropin (akan diberi GnRH), dan hiperprolaktinemia (diobati dengan dopamine agonis 2 bromo-alfa-ergo-kriptin).

Bagaimana prognosis infertilitas itu???

Prognosis terjadinya kehamilan tergantung pada umur suami, umur istri, frekuensi senggama, dan lamanya perkawinan. Masa yang paling subur seorang wanita adalah saat umur 24 tahun, kemudian menurun perlahan-lahan sampai umur 30 tahun, dan setelah itu menurun dengan cepat. Sedang masa paling subur pria adalah saat usia 24-25 tahun. Tapi, pada pria, juga dipengaruhi oleh frekuensi senggama. Ternyata, senggama 4 kali seminggu paling meluangkan terjadinya kehamilan, karena ternyata kualitas dan jenis motilitas spermatozoa menjadi lebih baik dengan seringnya ejakulasi. Penelitian terhadapjumlah bulan yang diperlukan untuk terjadinya kehamilan tanpa kontrasepsi adalah 25% dalam 1 bulan pertama, 63% dalam 6 bulan pertama, 75% dalam 9 bulan pertama, 80% dalam 12 bulan pertama, dan 90% dalam 18 bulan pertama. Bila belum hamil setelah menikah selama 3 tahun, prognosisnya masih baik (50% bias hamil dengan penanganan yang baik). Tapi bila sudah lebih dari 5 tahun menikah belum hamil, prognosisnya lebih buruk (kemungkinan hamil hanya 30%).

Dari sini, terpikir, betapa anak adalah anugerah, adalah rizki dariNya. Namun justru terkadang, ketidaksiapan menerima kehadiran seorang anak akan membuat rasa penolakan (terhadap janin bila hamil), dan bahkan usaha untuk menggugurkannya. Naudzubillah.

 Betapa memang Allah menguji kita, salah satunya dengan anak, baik dengan kehadirannya, maupun ketidakhadirannya. Dan keduanya memerlukan perasaan selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa Dia akan memberikan pada kita sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan kita memikulnya.

Bahwa,meskipun mungkin Allah belum mengkaruniakannya saat ini,namun tunjukkan keinginan kita yang kuat bahwa kita akan mensyukiri karunia yang semoga suatu saat akan diberikanNya. Dengan tak hanya menyiapkan materi, namun juga fisik, dan keilmuan.

baby

Dan jika nanti Dia karuniakan, semoga kita tidak termasuk orang yang : “Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS 7: 190).