Jika Pasangan Kita tak Sempurna
Komitmen Vs Cinta (nafsu)
Cinta yang didasari semata-mata oleh ketertarikan dan gairah asmara, akan cepat pudar. Sebaliknya, kadangkala pernikahan tidak diawali dengan cinta, tetapi oleh niat yang lurus dan komitmen yang kokoh. Sebuah komitmen yang kokoh juga dapat menjadi penyulut api cinta. Ia tidak berbicara tentang rupa, tetapi ia berbicara tentang kesetiaan pada nilai yang dipegangnya. Bukan berarti rupa tak lagi memjadi pertimbangan sama sekali. Cuma masalah rupa tak lagi menjadi pertimbangan utama. Atau, kalau awalnya digerakkan oleh ketertarikan kepada rupa, komitmen itu dapat melahirkan kesetiaan yang lebih tulus. Komitmen jugalah yang merupakan salah satu kekuatan yang dapat menghindarkan dari kebosanan perkawinan.

Pasangan sempuna??
“Apabila datang kepadamu seorang laki-laki yang engkau ridhai terhadap agama dan akhlaknya (untuk meminang), maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang merata.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)
Dalam hadits ini, Nabi SAW tidak mensyaratkan kesederajatan dalam ilmu agama. Tingkat kebagusan akhlaklah yang menjadi ukuran. Orang yang memiliki ilmu luas, bukan merupakan jaminan ia memiliki kecintaan besar terhadap agama. Bila kecintaan pada agama sudah mempengaruhi jiwanya, sementara hatinya sudah cenderung kepada akhlak yang mulia, insya Allah ia akan lebih mudah menerima kebenaran dan menghiasi diri dengan kebajikan.
Sekalipun demikian, tanpa ilmu, kita tidak bisa beramal dan beribadah dengan benar. Kita tidak dapat mengabaikan ilmu. Lebih –lebih mengabaikan semangat terhadap ilmu.
Hari ini, ketika manusia yang mendekati kesempurnaan hampir-hampir tak dapat kita temukan, kita perlu meluaskan jiwa agar tidak meninggikan harapan. Sebaliknya, kita perlu menguatkan komitmen untuk saling memperbaiki, saling menolong dalam meningkatkan ketakwaan kepadaNya. Sungguh, amat berbeda komitmen dan harapan. Komitmen mendorong untuk lebih mampu menerima keadaan, sekaligus pada saat yang sama memperjuangkannya ke tingkat yang lebih baik. Adapun harapan yang tinggi membuat kita lebih peka terhadap kekurangan.
Seseorang yang menghiasi dirinya dengan kehebatan dan kesempurnaan, dapat menjadi orang yang penuh nestapa karena harapan yang tidak pada tempatnya. Bisa jadi, Allah telah menganugerahkan kepadanya suami atau istri yang memiliki keutamaan.. Namun, sebaik apapun pasangan kita, bila selalu kita bandingkan dengan harapan sebelum dan sesudah menikah, ia tidak akan mencapai keutamaan sedikitpun. Sebabnya bukan karena dia tidak memiliki keutamaan dan kesempurnaan. Bisa jadi, orang lain memandangnya dengan iri sambil diam-diam berdoa agar mendapatkan suami atau istri seperti dia. Akan tetapi, jika hati kita keruh dan jiwa kita keras, apa yang dapat membuahkan rasa syukur di hati kita???
Seakan kulihat Aisyah
Ketika ada yang bertanya tentang pendamping hidup yang sempurna…seakan terlihat Aisyah. Dialah istri Nabi yang banyak menimbulkan takjub pada hati yang merindukan kemesraan. Dia yang cerdas, tempat para sahabat bertanya dan belajar. Dia yang bila orang mendengar julikannya, Humaira, terbayang rumah tangga yang romantis menggemaskan.
Terkadang, yang menyebabkan kita kecewa bukanlah karena pasangan kita begitu menjengkelkan, melainkan karena harapan yang tidak berimbang. Kita berharap mendapat istri seperti Aisyah, tapi kita tidak siap dengan cemburunya yang begitu besar. Kita berhasrat memiliki istri yang cerdas dan hebat, tetapi kita tidak siap membimbingnya dari keadaan tidak tahu apa-apa. Sesungguhnya, di balik kebesaran Aisyah, ada suami yang dengan sabar mendidiknya. Di balik kemesraan-kemesraannya, ada kelembutan suami untuk senantiasa memahami. Tanpa ini, impian tinggal impian.
Impian tentang pendamping hidup yang penuh perhatian, justru menyebabkan kita senantiasa merasa kurang terhadap apa yang kita terima. Ini memudahkan timbulnya kekecewaan. Jika kekecewaan mencapai titik kulminasi, maka dapat menjadi pemicu pertengkaran.
Butuh waktu untuk berubah
Ada yang pasti akan berubah tanpa perlu kita ubah, namun ada yang tidak akan berubah bila kita tidak mengubahnya. Dalam kehidupan sehari-hari, sangat banyak hal yang tidak bisa berubah dengan sendirinya. Perilaku kita, pasangan kita, anak-anak kita, merupakan salah satu yang perlu upaya perubahan untuk bias berubah. Sayangnya, kita seringkali justru mengharap pasangan kita berubah tanpa kita berusaha mengubahnya. Atau, berusaha melakukan perubahan, tapi tanpa disertai kesabaran.
Dari “Agar Cinta Bersemi Indah”
M. Faudzil Adhim

komitmen….maka, jika pasangan kita tak sempurna, bersyukurlah karena dia berarti seorang manusia biasa yang tak luput dari kekurangan. Karena memang tak ada yang sempurna kecuali Dia. Karena kewajiban kita adalah terus mengupgrade diri menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, dihadapanNya, dan di mata manusia, karenaNya.

….maka, komitmen itulah yang harus dijaga. Bahwa membangun rumah tangga ini hanyalah karenaNya. Bahwa masalah apapun yang akan kita hadapi, selalu mesti dikembalikan pada aturanNya. Bahwa rumah tangga ini haruslah dapat menjadi rumah tangga teladan, keluarga yang berbasis taqwa, keluarga yang cinta ilmu, keluarga yang di dalamnya akan menambah kasih sayang dan keimanan.