Ternyata, menjadi lebih dekat itu justru membuat lebih mengharap banyak. Dan ketika ada sesuatu yang tidak ‘sreg’ di hati, terasa lebih dalam rasa kecewanya. Jika terluka, lebih perih rasanya.

Ternyata, pandangan mata itu terbatas. Apa yang di dalam hati, sungguh tak ada yang tahu.

Ternyata, seseorang itu bias ‘menipu’. Yang kita merasa sudah mengenalnya dengan baik, belum tentu kita sudah benar-benar mengenalnya.

Ternyata, menerima seseorang apa adanya itu butuh kelapangan hati dan ketulusan.

Ternyata, kita seharusnya juga mendengar dari orang lain, mendengar apa yang dikatakan, tanpa melihat siapa yang mengatakan.

Memang, tak ada manusia yang sempurna.

Kesempurnaan hanyalah milikNya.

Jadi berharap hanyalah padaNya.

”Ya Allah, hanya kepadaMu kami berharap dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.”