Ooo….ternyata begitu…

Setelah baca buku “Wanita Surga, akankah mendapat bidadara?” (Ust. Abu Umar Abdillah), ternyata jawabnya adalah…..

 

Ketika Allah menyebutkan segala keindahan dan kesenangan yang ada di jannah, maka hal itu berlaku umum untuk laki-laki dan wanita. Hanya saja Allah menyebutkan kenikmatan bagi kaum pria dengan iming-iming hurul ‘iin (bidadari bermata jeli), tapi tidak menyebutkan secara spesifik apakah wanita juga akan mendapatkan bidadara. Mengapa?

  1. Sesungguhnya Allah berkuasa untuk berbuat apapun yang Dia kehendaki.

  2. Karena tabiat wanita memiliki rasa malu yang tinggi. Sehingga Allah tidak mamberikan iming-iming di jannah (dengan bidadara) karena bias jadi mereka akan merasa malu dengan hal tersebut.

  3. Kerinduan seorang wanita terhadap laki-laki tidaklah sebagaimana rindunya kaum lelaki terhadap seorang wanita. Sedangkan Allah memberikan motivasi dengan sesuatu yang manusia tergoda olehnya di dunia. Dan tidak sebagaimana laki-laki, godaan terbesar bagi wanita adalah berupa keindahan, perhiasan, pakaian, materi, ingin tampil cantik, dan sanjungan.

Itulah diantara hikmah, mangapa nash-nash hanya menyebutkan bidadari untuk laki-laki, tanpa menyebutkan bidadara untuk wanita.

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (QS Al Hajj: 23)

 

Lalu, siapa suami wanita di jannah?

  1. Bagi wanita yang meninggal sebelum menikah, atau meninggal setelah diceraikan suaminya, atau suaminya tidak masuk jannah, maka dia akan dinikahkan dengan laki-laki penghuni jannah yang belum menikah.

  2. Bagi wanita yang meninggal setelah menikah, maka suaminya di dunia menjadi suaminya di jannah.

  3. Bagi wanita yang suaminya meninggal lalu dia menikah lagi dengan laki-laki lain. Maka suaminya di jannah adalah suaminya yang terakhir di dunia.

Jika seorang wanita menjalankan sholat lima waktu, shaum di bulan ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, masuklah ke dalam jannah dari pintu manapun yang kamu suka.” (HR. Ahmad)