Besok mau mudik…..senangnya…..:)

Kalau membayangkan perjalanannya, takuut…karena pasti ramai, lama, capek, rawan. Tapi membayangkan bertemu ibu, bapak, adek, simbah, pakdhe, budhe, paklik, bulik, mas, mbak, ponakan, duh aku kangen…lama….ga ketemu. Lebaran tahun kemaren ga bisa pulang, berlebaran di forensik, Surabaya. Jadi, pulaang….

Di tempatku, ada tradisi sungkeman, ga cuma sama orangtua, tapi sama keluarga besar dari ibu. Jadi, panjang dan lama. Bagusnya, kita akan dapat banyak doa-doa dari yang lebih tua, trus mendoakan yang muda-muda. Tapi…karena itu juga aku jadi sering nangis kalau sungkeman (dasar sentimentil, cengeng!!). Lha gimana, pasti kalau dibilang ”Iyo nduk, podo-podo, sing tuwa yo akeh salahe. Muga-muga tambah bekti ning ibu bapak, saged ngemong adek-adek, lancar kuliahe, cepak jodhone, mapan penggaweane, bla-bla…..”, aku akan ingat kalau punya banyaaak sekali kesalahan, kalau mereka itu mengatakan itu dengan amat sangat tulus. Yang paling kena sampai dalem itu kalau pas sungkem sama simbah (padahal ini urutan pertama, duh jadi nangis duluan deh..). Simbah itu, hebat, hebat sekali. Beliau adalah ibunya ibu, yang dari kecil sampai SMP aku serumah dengan beliau. Aku dulu mengenal beliau sekadar sebagai orang yang sabar, tidak suka menyuruh atau marah (kalau menyuruh sesuatu, beliau akan bilang ”nek sempat nduk, …………”), jadi tidak pernah yang namanya memaksa, beliau yang dengan sabar menghiburku kalau ditinggal ibu mengajar (pasti akan bilang ”iki simbah duwe permen…”), beliau yang oleh bapak selalu dipuji (bapak merasa sangat beruntung mendapat mertua seperti simbah), yang rajin sekali mengaji, sholat malam, sholat dhuha ataupun shoum sunnah (hehe…kami para cucunya pasti minta didoakan kalau mau ujian, karena kami beranggapan doa beliau mustajab. Dan tradisi minta didoakan ini kulakukan sampai kuliah kira-kira semester 5).

Terakhir aku bertemu simbah adalah sebelum masuk Interna ini, mungkin 1,5 bulan yang lalu. Simbah semakin sepuh, beliau semakin sering sakit, dan mudah lupa (sampai bertanya berkali-kali ”lha kowe ki sopo nduk..?”, ”mau soko ngendi?”). Tapi sejak aku kuliah (kalau libur kan harus disempatkan njenguk simbah), aku semakin tahu beliau. Tak pernah sekalipun aku berkunjung tanpa dinasehati sesuatu, bahkan dari cerita beliau-pun (aku lebih senang membiarkan simbah bercerita dan mendengarkannya daripada bertanya macam-macam yang membuat beliau bertanya berulang-ulang), aku mendapat semangat dan pelajaran. Bagaimana beliau membesarkan ke-8 putra-putrinya. Nasehatnya akan ”pokoke nduk, dadi wong ki sing sabar, trimo, ikhlas” sangat berarti untukku. Ibadahnya, tutur katanya, tingkah lakunya, adalah indah di mataku. Simbah…aku kangen…

Alhamdulillah ya Allah, Engkau karuniakan untukku simbah yang baik, Engkau hadirkan aku diantara orang-orang yang baik, maka masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang baik, yang Engkau ridhoi. Amiin…

 

 

– ->to be continued – – – – ceritanya dilanjutin habis mudik ya…:)