Memasuki sebuah usia yang tak lagi anak-anak, yang juga tak lagi remaja, tapi sudah dewasa muda, ternyata tidak mudah. Tidak seperti bayangan saat masih kecil dulu bahwa menjadi lebih besar itu menyenangkan, dapat bebas melakukan apa saja. Tapi, di usia ini, sebenarnya sih selalu kita jumpai di setiap tahapan usia, lebih banyak tantangannya. Mulai urusan pekerjaan yang belum jelas, jodoh, dan hal-hal yang berhubungan dengan eksistensi diri yang mulai dibangun. Sebenarnya semuanya seolah-olah adalah final dari apa yang telah kita pelajari saat masih anak-anak dan remaja, yang telah membentuk kepribadian dan pemikiran kita. Yang sekarang tinggal memoles dan melihat hasilnya. Namun, tetap saja diperlukan perencanaan, rencana jangka pendek, dan jangka panjang. Agar tetap ada acuan saat melangkah, agar motivasi tetap terus ada, agar berbuah kreativitas untuk mencapainya.

 

Ehm…pernahkah membuat sebuah proposal pernikahan? Ya minimal biodata yang biasanya diminta calon pasangan kita. Kalau belum, cobalah buat, dengan sungguh-sungguh. Meski hanya biodata, ternyata sangat tidak mudah, seringkali kesulitan saat akan menuliskan karakter diri, hal yang disukai, hal yang tidak disukai, dan bagian tersulit adalah saat menuliskan visi dan misi hidup, visi dan misi pernikahan. Padahal, jika dipikir-pikir, karakter diri, hal yang disukai, yang tidak disukai, seharusnya telah kita pahami sebagai bagian dari memahami diri sendiri (kalau dirinya sendiri belum paham, bagaimana dengan orang lain??), sehingga kita tahu dimana letak kekuatan kita (strength) dan kekurangan/ kelemahan kita (weakness), sehingga kemudian muncul kesadaran untuk mengoptimalkan kekuatan dan menguatkan kelemahan. Lalu tentang visi dan misi, bukankah hidup ini pasti punya tujuan (bayangkan jika tidak, betapa kacaunya..), bukankah setiap orang punya impian dan cita-cita (jika tidak, maka apa yang dapat membuat bersemangat??), jadi seharusnya menulis visi dan misi tidaklah sulit, jika sejak awal telah kita pancangkan tujuan yang jelas dalam hidup, termasuk tujuan menikah.

 

Ya, sekarang cobalah membuatnya, membuat biodata diri, apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan, bagaimana langkah-langkah kecil dan besar kita, perencanaan kita, untuk mencapainya. Insya Allah, jika belum ada yang meminta, maka itu dapat dijadikan bahan penambah semangat, karena kadang saat membuatnya atau setelahnya, muncul perasaan bahwa kita masih punya sangat banyak kekurangan yang seharusnya dapat kita perbaiki, muncul semangat bahwa kita belum maksimal dalam memanfaatkan kelebihan kita. Jika telah ada yang meminta, maka Alhamdulillah kita telah menyiapkannya sebelumnya.

 

 

                                                                    Untuk hep-4, terimakasih tlah memaksaku membuatnya🙂