Diperhatikan, disayangi, dicintai, pasti menyenangkan, membuat hati berbunga-bunga. Memupuk harapan yang semu akan seseorang yang tak pasti. Menenangkan sesaat akan adanya orang yang bersedia menerima kita apa adanya. Sampai dapat terlena akan imajinasi yang terlalu tinggi, ataupun menutup pintu hati untuk orang lain selainnya. Padahal dia bukanlah apa-apa, bukan siapa-siapa.

Lalu, pasti kita akan berharap dia lebih bisa mengerti, memahami, menerima, memaklumi, kita. Lalu, akan muncul cemburu saat melihatnya lebih dekat dengan orang lain, cemburu saat tahu kebaikannya pada semua orang, tak ada yang spesial yang diberikannya pada kita, cemburu saat yang membuatnya dapat berbahagia seperti saat bersama kita, tidak hanya kita.

 

Sesungguhnya suatu ‘rasa suka’, adalah fitrah yang dikaruniakan Allah pada kita. Rasa yang agung nan suci, jika berbingkai kesucian hati.

Rasa yang sangat mungkin tak ada harganya, jika tak ada niatan dan usaha untuk menyucikannya.

Rasa yang hanya akan menyiksa, jika tak diperuntukkan untuk mencari ridhoNya.

 

Jika telah ada ‘rasa’ itu, maka harus dievaluasi kembali, apakah sudah waktunya? Apakah orang tersebut telah berhak kita tempatkan dalam ruang hati ‘khusus’ kita? Atas dasar apa menyukainya?

 

                                                        Nanas, 26 Sept ‘08

                  saat membuka lagi hepatosit yang pernah dibanjiri

                  darah arteri hepatica dan vena-vena,

                  yang hampir-hampir terjadi kongesti hepar,

                  dan tanpa terapi dariNya,

                  pasti sudah pecah berdarah-darah.