Sekarang aku jaga lagi, di RIP (rawat inap pria) lagi. Setelah seminggu kemaren juga tugas di RIP. Ya, kami biasa memegang pasien, memfollow-up nya setiap hari, sampai pasien tersebut sembuh, pulang, atau meninggal. Minggu kemaren aku pegang pasien DM (diabetes melitus), Limfoma Hodgkin, diare, gagal jantung, hematemesis melena, dan malaria. Semuanya berkesan, dan merupakan pelajaran yang berharga, namun, ada satu pelajaran yang sangat berharga, yaitu tentang kasih orangtua kepada anaknya.

Adalah pasienku yang sakit malaria, dia masih muda, baru 22 tahun. Dulunya dia adalah seorang kernet truk, yang tertimpa musibah kecelakaan, sampai membuatnya fraktur tulang vertebra L2-L3. Setelah dioperasi di Surabaya, dia dipasang pen, namun dinyatakan oleh dokter bahwa anggota gerak bawahnya (kaki) lumpuh, dan dia juga mengalami inkontinensia uri dan alvi (tidak dapat mengendalikan BAB dan BAK). 15 hari kemudian, dia terus-menerus menggigil- panas- berkeringat dingin, tidak tentu. Kadang sehari sekali, kadang dua kali. Menggigil itulah yang kemudian mengantarkannya ngamar di sini.

Pemandangan yang terlihat tiap hari dimataku, uang cukup menonjol dan membuatku terenyuh, adalah ketika dengan sangat sabar sang ibu membersihkan kotorannya (BAB dan kencingnya), menyuapinya, menyekanya, memeluknya ketika menggigil kedinginan, dan tertidur menunggui di sampingnya. Subhanallah, betapa cinta ibu itu sepanjang masa, dan cinta anak sepanjang galah. Yah, semoga kita dapat menjadi anak yang sholih sholihah, yang taat pada Allah, dan berbakti pada kedua orangtua. Amiin…