September 2008


Saat membaca isi salah satu blog sahabatku (http://1tsuki.multiply.com/journal/item/11), yang berjudul “Kepada  engkau yang mencintaiku”, rasanya……daleem….

Jazakillah khair ukhti….

Iklan

Besok mau mudik…..senangnya…..:)

Kalau membayangkan perjalanannya, takuut…karena pasti ramai, lama, capek, rawan. Tapi membayangkan bertemu ibu, bapak, adek, simbah, pakdhe, budhe, paklik, bulik, mas, mbak, ponakan, duh aku kangen…lama….ga ketemu. Lebaran tahun kemaren ga bisa pulang, berlebaran di forensik, Surabaya. Jadi, pulaang….

Di tempatku, ada tradisi sungkeman, ga cuma sama orangtua, tapi sama keluarga besar dari ibu. Jadi, panjang dan lama. Bagusnya, kita akan dapat banyak doa-doa dari yang lebih tua, trus mendoakan yang muda-muda. Tapi…karena itu juga aku jadi sering nangis kalau sungkeman (dasar sentimentil, cengeng!!). Lha gimana, pasti kalau dibilang ”Iyo nduk, podo-podo, sing tuwa yo akeh salahe. Muga-muga tambah bekti ning ibu bapak, saged ngemong adek-adek, lancar kuliahe, cepak jodhone, mapan penggaweane, bla-bla…..”, aku akan ingat kalau punya banyaaak sekali kesalahan, kalau mereka itu mengatakan itu dengan amat sangat tulus. Yang paling kena sampai dalem itu kalau pas sungkem sama simbah (padahal ini urutan pertama, duh jadi nangis duluan deh..). Simbah itu, hebat, hebat sekali. Beliau adalah ibunya ibu, yang dari kecil sampai SMP aku serumah dengan beliau. Aku dulu mengenal beliau sekadar sebagai orang yang sabar, tidak suka menyuruh atau marah (kalau menyuruh sesuatu, beliau akan bilang ”nek sempat nduk, …………”), jadi tidak pernah yang namanya memaksa, beliau yang dengan sabar menghiburku kalau ditinggal ibu mengajar (pasti akan bilang ”iki simbah duwe permen…”), beliau yang oleh bapak selalu dipuji (bapak merasa sangat beruntung mendapat mertua seperti simbah), yang rajin sekali mengaji, sholat malam, sholat dhuha ataupun shoum sunnah (hehe…kami para cucunya pasti minta didoakan kalau mau ujian, karena kami beranggapan doa beliau mustajab. Dan tradisi minta didoakan ini kulakukan sampai kuliah kira-kira semester 5).

Terakhir aku bertemu simbah adalah sebelum masuk Interna ini, mungkin 1,5 bulan yang lalu. Simbah semakin sepuh, beliau semakin sering sakit, dan mudah lupa (sampai bertanya berkali-kali ”lha kowe ki sopo nduk..?”, ”mau soko ngendi?”). Tapi sejak aku kuliah (kalau libur kan harus disempatkan njenguk simbah), aku semakin tahu beliau. Tak pernah sekalipun aku berkunjung tanpa dinasehati sesuatu, bahkan dari cerita beliau-pun (aku lebih senang membiarkan simbah bercerita dan mendengarkannya daripada bertanya macam-macam yang membuat beliau bertanya berulang-ulang), aku mendapat semangat dan pelajaran. Bagaimana beliau membesarkan ke-8 putra-putrinya. Nasehatnya akan ”pokoke nduk, dadi wong ki sing sabar, trimo, ikhlas” sangat berarti untukku. Ibadahnya, tutur katanya, tingkah lakunya, adalah indah di mataku. Simbah…aku kangen…

Alhamdulillah ya Allah, Engkau karuniakan untukku simbah yang baik, Engkau hadirkan aku diantara orang-orang yang baik, maka masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang baik, yang Engkau ridhoi. Amiin…

 

 

– ->to be continued – – – – ceritanya dilanjutin habis mudik ya…:)

 

1 Syawal bukanlah finish dari perjuangan selama 1 bulan. Namun sebagai start dari usaha mempertahankan kesucian jiwa untuk 1 tahun ke depan, insya Allah.

Taqabbalallahu minna wa minkum, kullu ‘amin wa antum bikhair. Selamat hari raya Idul Fitri 1428H. Mohon maaf lahir dan bathin.

Semoga kita tetap istiqomah di jalanNya, melazimi sunnah RasulNya, dan mengisi keseharian dengan ketatan kepadaNya. Amiin…

Memasuki sebuah usia yang tak lagi anak-anak, yang juga tak lagi remaja, tapi sudah dewasa muda, ternyata tidak mudah. Tidak seperti bayangan saat masih kecil dulu bahwa menjadi lebih besar itu menyenangkan, dapat bebas melakukan apa saja. Tapi, di usia ini, sebenarnya sih selalu kita jumpai di setiap tahapan usia, lebih banyak tantangannya. Mulai urusan pekerjaan yang belum jelas, jodoh, dan hal-hal yang berhubungan dengan eksistensi diri yang mulai dibangun. Sebenarnya semuanya seolah-olah adalah final dari apa yang telah kita pelajari saat masih anak-anak dan remaja, yang telah membentuk kepribadian dan pemikiran kita. Yang sekarang tinggal memoles dan melihat hasilnya. Namun, tetap saja diperlukan perencanaan, rencana jangka pendek, dan jangka panjang. Agar tetap ada acuan saat melangkah, agar motivasi tetap terus ada, agar berbuah kreativitas untuk mencapainya.

 

Ehm…pernahkah membuat sebuah proposal pernikahan? Ya minimal biodata yang biasanya diminta calon pasangan kita. Kalau belum, cobalah buat, dengan sungguh-sungguh. Meski hanya biodata, ternyata sangat tidak mudah, seringkali kesulitan saat akan menuliskan karakter diri, hal yang disukai, hal yang tidak disukai, dan bagian tersulit adalah saat menuliskan visi dan misi hidup, visi dan misi pernikahan. Padahal, jika dipikir-pikir, karakter diri, hal yang disukai, yang tidak disukai, seharusnya telah kita pahami sebagai bagian dari memahami diri sendiri (kalau dirinya sendiri belum paham, bagaimana dengan orang lain??), sehingga kita tahu dimana letak kekuatan kita (strength) dan kekurangan/ kelemahan kita (weakness), sehingga kemudian muncul kesadaran untuk mengoptimalkan kekuatan dan menguatkan kelemahan. Lalu tentang visi dan misi, bukankah hidup ini pasti punya tujuan (bayangkan jika tidak, betapa kacaunya..), bukankah setiap orang punya impian dan cita-cita (jika tidak, maka apa yang dapat membuat bersemangat??), jadi seharusnya menulis visi dan misi tidaklah sulit, jika sejak awal telah kita pancangkan tujuan yang jelas dalam hidup, termasuk tujuan menikah.

 

Ya, sekarang cobalah membuatnya, membuat biodata diri, apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan, bagaimana langkah-langkah kecil dan besar kita, perencanaan kita, untuk mencapainya. Insya Allah, jika belum ada yang meminta, maka itu dapat dijadikan bahan penambah semangat, karena kadang saat membuatnya atau setelahnya, muncul perasaan bahwa kita masih punya sangat banyak kekurangan yang seharusnya dapat kita perbaiki, muncul semangat bahwa kita belum maksimal dalam memanfaatkan kelebihan kita. Jika telah ada yang meminta, maka Alhamdulillah kita telah menyiapkannya sebelumnya.

 

 

                                                                    Untuk hep-4, terimakasih tlah memaksaku membuatnya 🙂

Diperhatikan, disayangi, dicintai, pasti menyenangkan, membuat hati berbunga-bunga. Memupuk harapan yang semu akan seseorang yang tak pasti. Menenangkan sesaat akan adanya orang yang bersedia menerima kita apa adanya. Sampai dapat terlena akan imajinasi yang terlalu tinggi, ataupun menutup pintu hati untuk orang lain selainnya. Padahal dia bukanlah apa-apa, bukan siapa-siapa.

Lalu, pasti kita akan berharap dia lebih bisa mengerti, memahami, menerima, memaklumi, kita. Lalu, akan muncul cemburu saat melihatnya lebih dekat dengan orang lain, cemburu saat tahu kebaikannya pada semua orang, tak ada yang spesial yang diberikannya pada kita, cemburu saat yang membuatnya dapat berbahagia seperti saat bersama kita, tidak hanya kita.

 

Sesungguhnya suatu ‘rasa suka’, adalah fitrah yang dikaruniakan Allah pada kita. Rasa yang agung nan suci, jika berbingkai kesucian hati.

Rasa yang sangat mungkin tak ada harganya, jika tak ada niatan dan usaha untuk menyucikannya.

Rasa yang hanya akan menyiksa, jika tak diperuntukkan untuk mencari ridhoNya.

 

Jika telah ada ‘rasa’ itu, maka harus dievaluasi kembali, apakah sudah waktunya? Apakah orang tersebut telah berhak kita tempatkan dalam ruang hati ‘khusus’ kita? Atas dasar apa menyukainya?

 

                                                        Nanas, 26 Sept ‘08

                  saat membuka lagi hepatosit yang pernah dibanjiri

                  darah arteri hepatica dan vena-vena,

                  yang hampir-hampir terjadi kongesti hepar,

                  dan tanpa terapi dariNya,

                  pasti sudah pecah berdarah-darah.

 

 

Sekarang aku jaga lagi, di RIP (rawat inap pria) lagi. Setelah seminggu kemaren juga tugas di RIP. Ya, kami biasa memegang pasien, memfollow-up nya setiap hari, sampai pasien tersebut sembuh, pulang, atau meninggal. Minggu kemaren aku pegang pasien DM (diabetes melitus), Limfoma Hodgkin, diare, gagal jantung, hematemesis melena, dan malaria. Semuanya berkesan, dan merupakan pelajaran yang berharga, namun, ada satu pelajaran yang sangat berharga, yaitu tentang kasih orangtua kepada anaknya.

Adalah pasienku yang sakit malaria, dia masih muda, baru 22 tahun. Dulunya dia adalah seorang kernet truk, yang tertimpa musibah kecelakaan, sampai membuatnya fraktur tulang vertebra L2-L3. Setelah dioperasi di Surabaya, dia dipasang pen, namun dinyatakan oleh dokter bahwa anggota gerak bawahnya (kaki) lumpuh, dan dia juga mengalami inkontinensia uri dan alvi (tidak dapat mengendalikan BAB dan BAK). 15 hari kemudian, dia terus-menerus menggigil- panas- berkeringat dingin, tidak tentu. Kadang sehari sekali, kadang dua kali. Menggigil itulah yang kemudian mengantarkannya ngamar di sini.

Pemandangan yang terlihat tiap hari dimataku, uang cukup menonjol dan membuatku terenyuh, adalah ketika dengan sangat sabar sang ibu membersihkan kotorannya (BAB dan kencingnya), menyuapinya, menyekanya, memeluknya ketika menggigil kedinginan, dan tertidur menunggui di sampingnya. Subhanallah, betapa cinta ibu itu sepanjang masa, dan cinta anak sepanjang galah. Yah, semoga kita dapat menjadi anak yang sholih sholihah, yang taat pada Allah, dan berbakti pada kedua orangtua. Amiin…

 

 

Sahabatku…

Sebagaimana Ia (Allah) menghadirkanmu ke dunia ini dengan rasa cinta,

melalui perantara seorang ibu yang penuh kasih,

karena itulah…rasa yang begitu kuat terpatri di Qalbumu

adalah rasa cinta (ingin dicinta dan mencinta)…

 

Kita tumbuh laksana tunas pohon kecil yang mengeluarkan

dedaunannya dan ketika kuncupnya menyembul…

Bersama itu pula timbul hasrat dihatimu untuk mencari pasangan

hidup, teman berbagi suka duka di alam ini..

 

Cinta merupakan karunia Ilahi.., hadirnya tanpa

diundang…, tiba-tiba kita sadari ia kuat tertanam

laksana akar pohon yang rindang.

 

Sahabatku…

Kurasakan getar Qalbumu manakala kau bercerita penuh

harap kepadanya.

 

Ia laksana kilau permata yang penuh cahya dimatamu

Mencintainya ibarat kuncup bunga di Qalbumu

Yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat

Namun ternyata, Jangankan mekar yang kau dapat, Kuncup itu layu

sebelum berkembang..

Manakala kau sadari Dia tak pernah mencintaimu!,

tak pernah menaruh hati padamu!!,

tak pernah menginginkanmu!!! Tak pernah !!!

 

Kekecewaanmu kau tumpahkan dalam sebuah syair lagu

(walau hanya kau yang tahu…) Lirih perlahan mengalun…

 

——-

“Kau bagaikan telaga yang jernih

Yang sejuk airnya serta menyegarkan

Ditumbuhi pepohonan rindang

Disekelilingmu

 

Kau sadari akan seseorang

Yang mencintaimu

Setulus hatinya

Dan kau beri satu pengertian tentang sebuah cinta yang

tak kesampaian

 

Kau hargai satu cinta kasih

Kau buktikan tanpa menghinanya

Walau seringkali kau acuhkan dia yang menyayangimu

Kau berarti baginya

Kharisma didirimu

Dambaan hatinya”

——-

 

Aduhai gerangan sungguh beruntung yang mendapatkan cintamu

Dan ketika kau kutanya kenapa?

Dengan ungkapan pilu engkaupun berkata:

 

“Entahlah Akupun tidak tahu. Namun yang terpenting Dari

sekian banyak manusia, dari sekian banyak insan dunia

Bagiku…Dialah yang terindah…terbaik…, dan paling

mempesona…!” Pancarannya begitu tajam menghunjam!!

Sungguh tak ‘kan ada yang bisa menggantikannya Walau

dicari di belahan bumi manapun, tetaplah dia orangnya!!!

 

Aduhai…gerangan…perih nian yang kau rasa… Kalau

begitu baiklah… Kan kuajak dirimu terbang ke sebuah

tempat yang bernama “Negeri kesunyian” Kenapa ??? Karna

engkau butuh kesendirian untuk mengobati luka hatimu…

 

Kita tlah sampai…

Tak ada seorangpun yang akan mendengar perbincangan

kita… (Listen to me please!!! Dengarkanlah aku

baik-baik sahabatku…!!!)

 

Sahabat…

Tahukah engkau?

Manakala engkau telah merasa mencintai seseorang…

Itu sama artinya engkau t’lah menghamba padanya?…

 

Sadarkah dirimu?

Manakala engkau tahu ia tidak mencintaimu …

Itu artinya ia menunjuk pada kekuranganmu?…

 

Tidak terfikirkah olehmu?

Jika yang kau harap saja tidak bisa mencintaimu…

Apalagi Yang Menciptakannya???!!!…

 

Astafirughlaahul ‘aziim… Astafirughlaahul ‘aziim…

Astafirughlaahul ‘aziim… (Ucapmu seraya menjerit

tertahan… titik-titik embun menggenang di kelopak

matamu…mengalir perlahan…membasahi pipi…)

Menangislah…kalau itu yang membuat hatimu tenang…

 

Sahabat…

Aku bersyukur kepada Allah kau sadari kini

kekhilafanmu… Bahwa ter-amat sulit untuk menggapai

Cinta_Nya bisa engkau pelajari dari makhluk_Nya yang

bernama manusia… Karena itu…Perbaikilah segala

sesuatu yang ada padamu… Bangkitlah untuk menjadi yang

terbaik…

 

Sahabat…

Sesungguhnya yang ada padamu sudah ter-amat sempurna…

Rupa wajahmu adalah yang terindah yang kau miliki…

Namun?sinarannya belum terlihat…

Masih pudar dan perlu dibersihkan…

Dimana letaknya tersimpan di dasar yang paling dalam…

Sulit terjangkau?Itulah Qalbu (hati) mu…

Jika sinarnya telah mendekati kesempurnaan…

Kilaunya akan memancar ke luar…

Itulah namanya kecantikan/ ketampanan hakiki…

 

Sesungguhnya…

Seseorang mencintaimu tidaklah melihat dari kecantikan

(ketampanan) atau kekayaanmu…

Tetapi ia melihat pancaran yang ada pada Qalbumu…

Kenapa?

Karena kecantikan/ ketampanan akan sirna bersama

berlalunya waktu… Kekayaan akan lesap bersama

perputaran roda kehidupan… Sedangkan pancaran Qalbu

akan senantiasa abadi bersama ridha Ilahi kepadamu…

 

Namun satu hal yang harus kau ingat!

Tak selamanya cinta itu berati memiliki…

Ibarat Qalbumu…yang bebas bergerak tanpa bisa kau cegah…

Kenapa? Karena ia hidup sebagaimana arus air yang mengalir…

Engkau saja tak dapat memiliki hatimu, apalagi kepunyaan

orang lain? Yang berhak memilikinya adalah Allah…

 

Wahai sahabat… Bukankah sesuatu yang kau sulit

mendapatkannya sulit pula kau lepaskan? Demikianlah

seseorang itu di hatimu…

Bukankah seharusnya kau senantiasa menjaga kesucianmu?

Terutama Qalbumu…(Yang senantiasa wajib kau jaga

Kesuciannya)

 

Karena itulah…

“Kasih Tak Sampai” merupakan cermin bagimu …

untuk mengerti arti Cinta Sejati yang sesungguhnya…

 

Sesungguhnya Cinta dijadikan Allah indah di dalam Qalbumu…

Keindahannya akan kau temukan manakala kau

dapatkan hatimu mencintai Allah… Tak ada makhluk yang

sempurna di muka bumi ini kecuali diri_Nya…

 

Karena itu…

Laa tahzaan wa laa takhaaf (Janganlah sedih dan janganlah takut…)

Innallaaha ma’ana (Sesungguhnya Allah bersama kamu…)

Betapa dengan sayang_Nya Ia berkata:

 

“Thayyibaa tu litthayyibiina watthayyibuuna

litthayyibaati” Wanita-wanita yang baik adalah untuk

laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk

wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An Nur 24:26)

 

Wallaziina aamanuu asyaddu hubban-lillah

Orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada

Allah. (QS. Al Baqarah 2:165)

 

Yuhibbuhum wa yuribbuu nahuu

Dia (Allah) mencintai mereka dan mereka mencintai_Nya.

(QS. Al Maidah 5:54)

 

                                               (Sebuah taushiyah dari adek,

                                                 Jazakumullah khaiir ya..)

                                                                                                               

Laman Berikutnya »