Keluarga Mujahid

 

Mendengarnya, Subhanallah, rasanya ingin sekali mewujudkannya. Sebuah keluarga yang di dalamnya penuh kasih karenaNya, saling mengingatkan dengan sabar dan benar, berlomba-lomba berbuat kebaikan, dan bila ada permasalahan, semua dikembalikan pada aturanNya dalam Qur’an dan sunnah.

Jadi teringat masa kecil, Alhamdulillah, Allah memberikan orangtua yang hebat padaku. Mereka sangat keras mendidik dalam masalah apapun, terutama masalah agama. Mengajarkan cara sholat sebelum tidur, mewajibkan hafalan Juz ‘Amma selepas shubuh, mengajarkan tentang pergaulan, menutup aurat, memasukkan ke dalam sekolah Islam terbaik, namun tidak pernah melepas tanggung jawab akan pendidikan agama bahkan hingga aku dewasa. Semuanya terpatri begitu jelas, yang kini mewarnai setiap langkahku, sangat mempengaruhi pemikiranku, dan kini menjadi impianku mendidik putra-putriku kelak sebaik atau bahkan lebih baik dari apa yang telah diberikan kedua orang tuaku.

Lalu, tentu memulai sebuah impian tidaklah mudah, perlu ilmu, perncanaan, usaha, doa dan tawakkal. Ilmu tentang bagaimana memilih pasangan hidup yang baik, ayah atau ibu yang nantinya bersama-sama mendidik anak-anak kita. Baik dalam prosesnya (taaruf), meminang (khitbah), menunggu pinangan, memutuskan, menunggu sampai akad berlangsung sampai pesta walimatul ‘ursy. Lalu bagaimana menjadi istri atau suami yang baik, bagaimana merumuskan tujuan hidup bersama-sama, bagaimana pola pendidikan anak dan juga keluarga, dan banyak lagi. Setelah tahu ilmunya, direncanakan, membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang. Kemudian menjalaninya dengan sungguh-sungguh, disertai doa dan tawakkal. Karena kita hanya merencanakan, Allah yang menentukan. Dan harus yakin bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik bagi hambaNya.

         

Untuk saudariku yang telah menyempurnakan

separuh dien-nya kemaren,

Barakallahulaka wa baraka ’alaika

wa jama’a bainakuma fil khaiir. Amin..