Catatan kecil...


Ibu rumah tangga,

sebuah pekerjaan yang tidaklah mudah.

Butuh manajemen waktu yang efisien, karena pekerjaan yang tiada habisnya, lihat saja, pagi masak n nyiapin keperluan suami, trus setelah suami pergi kerja, bersih2, cuci, seterika, belanja, masak lagi buat siang. Siang nemenin suami makan n istirahat, siap2 lagi buat sore, trus setelah suami pulang, mendengarkan cerita2nya n menemaninya…

Itu kalau masih belum punya anak, kalau sudah punya putra, tentu tugasnya lebih banyak lagi. Dan belum bekerja, kalau nanti sudah lulus dan bekerja…wah…keluarga tetap yang utama.

Butuh manajemen keuangan yang handal.

Butuh manajerial skill di bidang personalia (dengan mendelegasikan beberapa tugas), butuh pengetahuan di bidang psikologis, kesehatan, pendidikan, sosial, keagamaan…

my sweetheart

Tapi,

sungguh jadi ibu tumah tangga itu menyenangkan, menjadi ratu dalam rumahnya, menjadi orang yang paling mengerti dan paling dituju oleh keluarganya.

Bukankah keberhasilan seorang wanita adalah memiliki rumah tangga yang menyenangkan dan putra putri sholih sholihah yang berhasil dunia akhirat???

Betapa Allah itu maha Kuasa.

Kuasa atas segala sesuatu.

Dan betapa kita sama sekali tidak punya kekuasaan apapun,

bahkan terhadap diri kita sendiri.

  (lagi…)

Bagaimana jika menyadari bahwa akan kehilangan seseorang yang sangat berarti?
Yang telah lama membersamai,
yang telah sangat mengerti,
Meski mungkin ada yang mengganti,
namun tetap tak bisa terganti.

Meski mungkin lambat laun akan beradaptasi,
namun butuh waktu,
butuh keberanian,
butuh kemandirian, tuk hadapi.

Seperti mencabut sebatang pohon yang telah kokoh,
akan terasa berat dan menyakitkan,
akan meninggalkan bekas dan sisa akar,
yang dalam.

Namun waktu terus berjalan,
tak mungkin konstan.

Kenyataan harus dihadapi,
dengan lapang,
dengan jiwa besar.

Kehidupan telah digariskan.
Kita seperti kereta,
yang mengikuti rel.
Seperti air sungai,
yang mengikuti alurnya.
Lahir, menjadi balita, TK, SD, SMP, SMU, kuliah,
kerja, menikah, punya anak, cucu, menjadi tua,
meninggal…

Tlah diatur dengan sedemikian pas dan rapi olehNya,
dan kini tinggal melaluinya dengan bersandar pada aturanNya,
mengatur kecepatan kereta,
memilih jika ada percabangan,
kadang berhenti sejenak,
kadang me-repair jika ada yang tidak berfungsi,
mengangkut orang atau barang,
lalu menurunkannya jika tlah sampai tujuan,
berganti-ganti penumpang,
kepanasan,
kehujanan,
melihat pemandangan,
dan jika tlah sampai akhir perjalanan,
jika waktu tlah tiada tersisa,
maka akan teronggok,
meninggalkan beragam kenangan.
sobat

Nanas,
saat merangkai puzzle-puzzle dalam ruang hatiku.

indah Dimanapun kita berada, sama saja,tetap di bumi Allah.
Namun, tak ada salahnya, jika memilih tempat yang dapat membantu kita tetap pada jalanNya Lingkungan dekat masjid, dekat dengan tetangga-tetangga yang sholih, kos atau kontrakan yang penghuninya adalah orang-orang hanif, tempat kerja yang memungkinkan bekerja dengan tenang dan lurus, tempat kuliah yang member manfaat dunia akhirat, dll yang baik. Tak ada salahnya memilih yang seperti itu.
Jika ada yang memilih tempat yang ‘menantang’, dengan harapan dapat mewarnainya dengan warna yang indah, itupun sungguh mulia.

(lagi…)

Begitu besarnya kekuatan kata, sampai-sampai Al Qur’an member petunjuk tentang bagaimana mengungkapkannya.

Secara prinsip, gunakan qaulan layyinan (perkataan yang menyentuh hati) bila menghadapi seperti Fir’aun, yakni keras kepala, merasa paling benar, dan tidak mau disalahkan.

Bila menghadapi orangtua, berbicaralah dengan qaulan kariman sehingga mereka merasa dimuliakan dan dihormati.

Bila berbicara kepada anak, hendaknya menggunakan qaulan sadidan jika ingin melahirkan anak-anak yang tangguh dan unggul. Secara harfiah, qaulan sadidan berarti perkataan yang jujur. Maksudnya, dalam berbicara kepada anak, hendaknya langsung ke permasalahan, lurus, jujur, benar, tanpa tedeng-tedeng aling-aling, dan tidak ada yang berbohong, juga dikemas dengan lemah lembut.

 

wordsBerawal dari kata, kita saling mengenal.

Dari kata-kata, bisa membuat jatuh cinta.

Dari kata-kata, bisa membuat bersemangat.

Bisa juga membuat marah atau kecewa.

Jadi, hati-hati menyusun kata.

alif-calendar

Tak terasa tahun telah berganti, sudah 2009 M, 1430 H. Sudah bertambah usia, sudah banyak yang dilewati, sudah bertambah yang dipelajari. Sudah semakin dewasa, seharusnya.

Merenungkan kembali apa yang telah lalu, menjadikannya sebagai pelajaran, dan kemudian menyusun rencana masa depan. Rencana yang realistis, yang berorientasi tak hanya untuk dunia, tapi juga untuk yang lebih jauh lagi, akhirat.

Kemudian berusaha merealisasikannya, sembari bertawakkal padaNya,yakin akan diberi yang terbaik olehNya, ridlo dengan segala keputusanNya.

Trauma itu berarti ketakutan sesuatu hal yang mungkin dikhawatirkan terjadi atau pernah terjadi pada seseorang. dan mungkin sangat dekat dengan cemas atau khawatir.
Dari sejak kuliah jauh, jember-solo, hal yang paling ditunggu-tunggu adalah liburan. tapi, yang paling ndak enak adalah membayangkan perjalananny. apalagi dengan bis malam yang suka ngebut,penumpang yang suka usil, dan supir yang ngantuk, hi takuut..
Memang hidup dan mati di tangan allah, tapi takut juga sifat fitrah manusia..

Yg penting..Tawakkaltu ‘alaAllah..

Memasuki stase baru,obgyn,yg katanya membutuhkan hati yg lapang dan mental baja..

Bismillah.. Smg dmudahkan.. Chemangat! ^_^

Ketenangan, itukah jawaban?

Tapi heran, kenapa tetap hampa?

Tak terasa ada cinta.  Masih belum saatnyakah?

Berharap bukan karena apa-apa selain karenaNya.

Karena Dialah sumber cinta, yang menghadirkannya dalam jiwa.

Karena Dialah yang akan menenangkan, menentramkan.

Karena pasti Dia kan hadirkan, tepat pada saatnya.

cinta.jpg

 

Duhai calon suamiku….

Betapa berat hati ini memutuskan, sungguh, memutuskan apakah keputusan memilihmu atau menolakmu adalah hal yang tepat.

Karena menerimamu berarti telah menyerahkan separuh hidupku untuk bersamamu, menghadapi sisa hidupku denganmu, yang amat menentukan kebahagiaan dunia dan akhiratku. Bersabar dan ikhlas melayanimu, berbakti padamu, membahagiakanmu, mengerti dirimu, keluargamu, dan banyak tanggungjawab lain yang tidak ringan, bahkan terasa amat berat di mataku.

Karena, menolakmu perlu alasan yang kuat, karena kesholihanmu..

 

Duhai…tahukah engkau sekarang kegundahanku?

Tak mudah, sulit sekali…

 

Nanti..ketika kau telah menjadi suamiku…

Berarti kedua orangtuaku telah mempercayakan diriku atasmu.

Berarti aku telah ikhlas menemanimu dalam suka dan duka.

Berarti aku wajib berbakti kepadamu.

 

Maka dari itu…

Bimbinglah aku dengan lembut..

Pimpinlah aku..

Hiburlah aku saat sedih..

Tertawalah bersamaku saat bahagia…

 

Duhai calon suamiku…

Saat ini kujaga hatiku agar tetap bersih, agar hanya engkaulah yang pertama kali datang..

Saat ini kutitip cintaku padaNya..agar dijaganya tetap suci..

Kujaga lisanku, kulitku, mataku, mulutku dari hal-hal yang diharamkan…

Karena itu…

Jagalah hatimu untukku..

Jagalah cintamu untukku…

Agar kita dapat memulai segalanya dengan berjalan di atas ketentuanNya..dengan penuh keridhaanNya…

 

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk yang baik dengan pengetahuanMu. Aku memohon agar diberi kekuatan dengan kekuatanMu. Aku memohon kemurahan yang sangat luas, karena sesungguhnya Engkau yang berkuasa, sedangkan aku tidak. Engkau maha Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui dan Engkau maha Mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku, bagi agama, bagi kehidupanku saai ini dan masa depan, maka mudahkanlah ia bagiku. Kemudian berkahilah ia bagiku. Sedang apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk untukku, bagi agama, bagi kehidupanku saai ini dan masa depan, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Berikanlah padaku kebaikan dimanapun adanya, dan jadikanlah aku orang yang ridha dengan pemberianMu.

Halaman Berikutnya »