Kamis, September 4th, 2008


                             
 

 

 

Ikhwan..

 

Jika ada yang menyebut-nyebut ikhwan, kebanyakan yang ada di pikiran kita adalah orang berjenggot yang memakai celana cingkrang, berbaju koko, kalau berjalan nunduk, hehe….

Benarkah demikian???

Di mata saya, seorang ikhwan tidak hanya demikian, dan tidak seperti itu hanya karena agar dianggap sebagai ikhwan, tapi melakukan segala sesuatu dengan penuh kesadaran bahwa yang dilakukannya adalah sesuai tuntunan Allah dan RasulNya.

Seorang ikhwan adalah orang yang baik agamanya, baik keilmuan/ pemahamannya, dapat menerangkannya dengan ucapan, dan berusaha selalu mengamalkannya. Selain itu dia memiliki akhlaq yang baik, akhlaq Islami/ akhlaqul karimah.

Hanya 2 itu saja sudah bias disebut ikhwan menurutku J, mudah kan…^_^

Ya kalau dianggap mudah ya jadi ringan, kalau dianggap susah ya jadi berat.

Karena…agama yang baik menuntut seseorang untuk selalu belajar, bersungguh-sungguh mengkaji baik kajian Islam maupun ilmu2 umum (“…dan Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat…” QS Al Mujadilah: 11).

Karena dengan agama yang baik, maka akan timbul keyakinan hanya pada Allah (”Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” QS Yusuf: 67).

Karena dengan agama yang baik, akan senantiasa berjihad (“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” QS Al Hajj: 78) dan kemudian ber-istiqamah (“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” QS Al Ahqaaf: 13)

Karena dengan agama yang baik jadi tahu kalau memanjangkan jenggot adalah sunnah, jadi tahu kalau tidak boleh memenjangkan celana sampai di bawah mata kaki.

Karena dengan agama yang baik dia akan tahu hukum menjaga pandangan (“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan  pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih  suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka  perbuat.”QS An-Nur : 30).

Karena dengan agama yang baik, akan tergambar akhlaq yang baik pula. Akhlaq pada Allah dan RasulNya (”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasull-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS At Taubah: 71),

akhlaq pada orangtua (”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” QS Luqman: 14),

akhlaq pada saurasa sesama muslim (”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…” QS Al Fath: 29),

akhlaq pada tetangga (”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” HR.Bukhari Muslim),

akhlaq kepada istri (”Dan bergaullah bersama mereka (isteri) dengan cara yang patut (diridhai oleh Allah). Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”QS. An-Nisa:19) dan hadits Rasul saat haji Wada’: ”Ketahuilah, kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan Kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatka kalian untuk selalu berbuat baik.”.

akhlaq kepada anak (”Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” QS Al Baqarah: 133).

 

Masih banyak lagi sebenarnya, amanah, jujur, sabar, tawadhu’, menahan amarah, tidak mendzolimi diri sendiri, dll….yang intinya adalah, memahami agama dengan baik, mengembalikan segala sesuatu sesuai aturanNya, sehingga tercermin pada tingkahlaku yang lambat laun akan menjadi akhlaq kebiasaanya.

Itulah ikhwan ^_^

 

                                                Special 4 my lovely brother, Hanif

                                                Selamat hari lahir ya…semoga tetap istiqamah.

                                                Karena dari banyak orang,

                                               hanya sedikit orang yang tahu

                                                Dari sedikit yang tahu,

                                               hanya sedikit yang memahami

                                                Dari sedikit yang memahami,

                                                hanya sedikit yang mengamalkan

                                                Dari sedikit yang mengamalkan,

                                               hanya sedikit yang istiqamah.

                                                Dan semoga kita tergolong orang-orang

                                                yang istiqamah di jalanNya.

 

 

 

 

                                                                             Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah.

 Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak

 seperti orang yang tak bahagia.

 Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak

 Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu

 mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil

 segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu  diaduknya perlahan. “Coba,  minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

 “Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

 Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk

 berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua

 orang itu berjalan  berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke

 tepi telaga yang tenang itu.

  Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam

 telaga itu.  Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk

 dan tercipta  riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil

 air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air

 itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.

 “Segar.”, sahut tamunya.

 “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.

 “Tidak”, jawab si anak muda.

 Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia

 lalu  mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga

 itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya

 segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu

 adalah sama, dan memang akan tetap sama.

 “Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah

 yang  kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan

 tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati

 kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup,

 hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu

 menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan

 itu.”

 Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah

 itu.  Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu

 menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas,

 buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan

 merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

 Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan

 Pak  Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”,

 untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa

 keresahan jiwa.

 

Sumber: Unknown