Saat membaca isi salah satu blog sahabatku (http://1tsuki.multiply.com/journal/item/11), yang berjudul “Kepada engkau yang mencintaiku”, rasanya……daleem….
Jazakillah khair ukhti….
September 30, 2008
Saat membaca isi salah satu blog sahabatku (http://1tsuki.multiply.com/journal/item/11), yang berjudul “Kepada engkau yang mencintaiku”, rasanya……daleem….
Jazakillah khair ukhti….
September 30, 2008
Besok mau mudik…..senangnya…..:)
Kalau membayangkan perjalanannya, takuut…karena pasti ramai, lama, capek, rawan. Tapi membayangkan bertemu ibu, bapak, adek, simbah, pakdhe, budhe, paklik, bulik, mas, mbak, ponakan, duh aku kangen…lama….ga ketemu. Lebaran tahun kemaren ga bisa pulang, berlebaran di forensik, Surabaya. Jadi, pulaang….
Di tempatku, ada tradisi sungkeman, ga cuma sama orangtua, tapi sama keluarga besar dari ibu. Jadi, panjang dan lama. Bagusnya, kita akan dapat banyak doa-doa dari yang lebih tua, trus mendoakan yang muda-muda. Tapi…karena itu juga aku jadi sering nangis kalau sungkeman (dasar sentimentil, cengeng!!). Lha gimana, pasti kalau dibilang ”Iyo nduk, podo-podo, sing tuwa yo akeh salahe. Muga-muga tambah bekti ning ibu bapak, saged ngemong adek-adek, lancar kuliahe, cepak jodhone, mapan penggaweane, bla-bla…..”, aku akan ingat kalau punya banyaaak sekali kesalahan, kalau mereka itu mengatakan itu dengan amat sangat tulus. Yang paling kena sampai dalem itu kalau pas sungkem sama simbah (padahal ini urutan pertama, duh jadi nangis duluan deh..). Simbah itu, hebat, hebat sekali. Beliau adalah ibunya ibu, yang dari kecil sampai SMP aku serumah dengan beliau. Aku dulu mengenal beliau sekadar sebagai orang yang sabar, tidak suka menyuruh atau marah (kalau menyuruh sesuatu, beliau akan bilang ”nek sempat nduk, …………”), jadi tidak pernah yang namanya memaksa, beliau yang dengan sabar menghiburku kalau ditinggal ibu mengajar (pasti akan bilang ”iki simbah duwe permen…”), beliau yang oleh bapak selalu dipuji (bapak merasa sangat beruntung mendapat mertua seperti simbah), yang rajin sekali mengaji, sholat malam, sholat dhuha ataupun shoum sunnah (hehe…kami para cucunya pasti minta didoakan kalau mau ujian, karena kami beranggapan doa beliau mustajab. Dan tradisi minta didoakan ini kulakukan sampai kuliah kira-kira semester 5).
Terakhir aku bertemu simbah adalah sebelum masuk Interna ini, mungkin 1,5 bulan yang lalu. Simbah semakin sepuh, beliau semakin sering sakit, dan mudah lupa (sampai bertanya berkali-kali ”lha kowe ki sopo nduk..?”, ”mau soko ngendi?”). Tapi sejak aku kuliah (kalau libur kan harus disempatkan njenguk simbah), aku semakin tahu beliau. Tak pernah sekalipun aku berkunjung tanpa dinasehati sesuatu, bahkan dari cerita beliau-pun (aku lebih senang membiarkan simbah bercerita dan mendengarkannya daripada bertanya macam-macam yang membuat beliau bertanya berulang-ulang), aku mendapat semangat dan pelajaran. Bagaimana beliau membesarkan ke-8 putra-putrinya. Nasehatnya akan ”pokoke nduk, dadi wong ki sing sabar, trimo, ikhlas” sangat berarti untukku. Ibadahnya, tutur katanya, tingkah lakunya, adalah indah di mataku. Simbah…aku kangen…
Alhamdulillah ya Allah, Engkau karuniakan untukku simbah yang baik, Engkau hadirkan aku diantara orang-orang yang baik, maka masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang baik, yang Engkau ridhoi. Amiin…
- ->to be continued – - – - ceritanya dilanjutin habis mudik ya…:)
September 29, 2008
1 Syawal bukanlah finish dari perjuangan selama 1 bulan. Namun sebagai start dari usaha mempertahankan kesucian jiwa untuk 1 tahun ke depan, insya Allah.
Taqabbalallahu minna wa minkum, kullu ‘amin wa antum bikhair. Selamat hari raya Idul Fitri 1428H. Mohon maaf lahir dan bathin.
Semoga kita tetap istiqomah di jalanNya, melazimi sunnah RasulNya, dan mengisi keseharian dengan ketatan kepadaNya. Amiin…
September 29, 2008
Memasuki sebuah usia yang tak lagi anak-anak, yang juga tak lagi remaja, tapi sudah dewasa muda, ternyata tidak mudah. Tidak seperti bayangan saat masih kecil dulu bahwa menjadi lebih besar itu menyenangkan, dapat bebas melakukan apa saja. Tapi, di usia ini, sebenarnya sih selalu kita jumpai di setiap tahapan usia, lebih banyak tantangannya. Mulai urusan pekerjaan yang belum jelas, jodoh, dan hal-hal yang berhubungan dengan eksistensi diri yang mulai dibangun. Sebenarnya semuanya seolah-olah adalah final dari apa yang telah kita pelajari saat masih anak-anak dan remaja, yang telah membentuk kepribadian dan pemikiran kita. Yang sekarang tinggal memoles dan melihat hasilnya. Namun, tetap saja diperlukan perencanaan, rencana jangka pendek, dan jangka panjang. Agar tetap ada acuan saat melangkah, agar motivasi tetap terus ada, agar berbuah kreativitas untuk mencapainya.
Ehm…pernahkah membuat sebuah proposal pernikahan? Ya minimal biodata yang biasanya diminta calon pasangan kita. Kalau belum, cobalah buat, dengan sungguh-sungguh. Meski hanya biodata, ternyata sangat tidak mudah, seringkali kesulitan saat akan menuliskan karakter diri, hal yang disukai, hal yang tidak disukai, dan bagian tersulit adalah saat menuliskan visi dan misi hidup, visi dan misi pernikahan. Padahal, jika dipikir-pikir, karakter diri, hal yang disukai, yang tidak disukai, seharusnya telah kita pahami sebagai bagian dari memahami diri sendiri (kalau dirinya sendiri belum paham, bagaimana dengan orang lain??), sehingga kita tahu dimana letak kekuatan kita (strength) dan kekurangan/ kelemahan kita (weakness), sehingga kemudian muncul kesadaran untuk mengoptimalkan kekuatan dan menguatkan kelemahan. Lalu tentang visi dan misi, bukankah hidup ini pasti punya tujuan (bayangkan jika tidak, betapa kacaunya..), bukankah setiap orang punya impian dan cita-cita (jika tidak, maka apa yang dapat membuat bersemangat??), jadi seharusnya menulis visi dan misi tidaklah sulit, jika sejak awal telah kita pancangkan tujuan yang jelas dalam hidup, termasuk tujuan menikah.
Ya, sekarang cobalah membuatnya, membuat biodata diri, apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan, bagaimana langkah-langkah kecil dan besar kita, perencanaan kita, untuk mencapainya. Insya Allah, jika belum ada yang meminta, maka itu dapat dijadikan bahan penambah semangat, karena kadang saat membuatnya atau setelahnya, muncul perasaan bahwa kita masih punya sangat banyak kekurangan yang seharusnya dapat kita perbaiki, muncul semangat bahwa kita belum maksimal dalam memanfaatkan kelebihan kita. Jika telah ada yang meminta, maka Alhamdulillah kita telah menyiapkannya sebelumnya.
Untuk hep-4, terimakasih tlah memaksaku membuatnya
September 29, 2008
Diperhatikan, disayangi, dicintai, pasti menyenangkan, membuat hati berbunga-bunga. Memupuk harapan yang semu akan seseorang yang tak pasti. Menenangkan sesaat akan adanya orang yang bersedia menerima kita apa adanya. Sampai dapat terlena akan imajinasi yang terlalu tinggi, ataupun menutup pintu hati untuk orang lain selainnya. Padahal dia bukanlah apa-apa, bukan siapa-siapa.
Lalu, pasti kita akan berharap dia lebih bisa mengerti, memahami, menerima, memaklumi, kita. Lalu, akan muncul cemburu saat melihatnya lebih dekat dengan orang lain, cemburu saat tahu kebaikannya pada semua orang, tak ada yang spesial yang diberikannya pada kita, cemburu saat yang membuatnya dapat berbahagia seperti saat bersama kita, tidak hanya kita.
Sesungguhnya suatu ‘rasa suka’, adalah fitrah yang dikaruniakan Allah pada kita. Rasa yang agung nan suci, jika berbingkai kesucian hati.
Rasa yang sangat mungkin tak ada harganya, jika tak ada niatan dan usaha untuk menyucikannya.
Rasa yang hanya akan menyiksa, jika tak diperuntukkan untuk mencari ridhoNya.
Jika telah ada ‘rasa’ itu, maka harus dievaluasi kembali, apakah sudah waktunya? Apakah orang tersebut telah berhak kita tempatkan dalam ruang hati ‘khusus’ kita? Atas dasar apa menyukainya?
Nanas, 26 Sept ‘08
saat membuka lagi hepatosit yang pernah dibanjiri
darah arteri hepatica dan vena-vena,
yang hampir-hampir terjadi kongesti hepar,
dan tanpa terapi dariNya,
pasti sudah pecah berdarah-darah.
September 21, 2008
Sekarang aku jaga lagi, di RIP (rawat inap pria) lagi. Setelah seminggu kemaren juga tugas di RIP. Ya, kami biasa memegang pasien, memfollow-up nya setiap hari, sampai pasien tersebut sembuh, pulang, atau meninggal. Minggu kemaren aku pegang pasien DM (diabetes melitus), Limfoma Hodgkin, diare, gagal jantung, hematemesis melena, dan malaria. Semuanya berkesan, dan merupakan pelajaran yang berharga, namun, ada satu pelajaran yang sangat berharga, yaitu tentang kasih orangtua kepada anaknya.
Adalah pasienku yang sakit malaria, dia masih muda, baru 22 tahun. Dulunya dia adalah seorang kernet truk, yang tertimpa musibah kecelakaan, sampai membuatnya fraktur tulang vertebra L2-L3. Setelah dioperasi di Surabaya, dia dipasang pen, namun dinyatakan oleh dokter bahwa anggota gerak bawahnya (kaki) lumpuh, dan dia juga mengalami inkontinensia uri dan alvi (tidak dapat mengendalikan BAB dan BAK). 15 hari kemudian, dia terus-menerus menggigil- panas- berkeringat dingin, tidak tentu. Kadang sehari sekali, kadang dua kali. Menggigil itulah yang kemudian mengantarkannya ngamar di sini.
Pemandangan yang terlihat tiap hari dimataku, uang cukup menonjol dan membuatku terenyuh, adalah ketika dengan sangat sabar sang ibu membersihkan kotorannya (BAB dan kencingnya), menyuapinya, menyekanya, memeluknya ketika menggigil kedinginan, dan tertidur menunggui di sampingnya. Subhanallah, betapa cinta ibu itu sepanjang masa, dan cinta anak sepanjang galah. Yah, semoga kita dapat menjadi anak yang sholih sholihah, yang taat pada Allah, dan berbakti pada kedua orangtua. Amiin…
September 21, 2008
Sahabatku…
Sebagaimana Ia (Allah) menghadirkanmu ke dunia ini dengan rasa cinta,
melalui perantara seorang ibu yang penuh kasih,
karena itulah…rasa yang begitu kuat terpatri di Qalbumu
adalah rasa cinta (ingin dicinta dan mencinta)…
Kita tumbuh laksana tunas pohon kecil yang mengeluarkan
dedaunannya dan ketika kuncupnya menyembul…
Bersama itu pula timbul hasrat dihatimu untuk mencari pasangan
hidup, teman berbagi suka duka di alam ini..
Cinta merupakan karunia Ilahi.., hadirnya tanpa
diundang…, tiba-tiba kita sadari ia kuat tertanam
laksana akar pohon yang rindang.
Sahabatku…
Kurasakan getar Qalbumu manakala kau bercerita penuh
harap kepadanya.
Ia laksana kilau permata yang penuh cahya dimatamu
Mencintainya ibarat kuncup bunga di Qalbumu
Yang siap untuk mekar dengan keharumannya yang memikat
Namun ternyata, Jangankan mekar yang kau dapat, Kuncup itu layu
sebelum berkembang..
Manakala kau sadari Dia tak pernah mencintaimu!,
tak pernah menaruh hati padamu!!,
tak pernah menginginkanmu!!! Tak pernah !!!
Kekecewaanmu kau tumpahkan dalam sebuah syair lagu
(walau hanya kau yang tahu…) Lirih perlahan mengalun…
——-
“Kau bagaikan telaga yang jernih
Yang sejuk airnya serta menyegarkan
Ditumbuhi pepohonan rindang
Disekelilingmu
Kau sadari akan seseorang
Yang mencintaimu
Setulus hatinya
Dan kau beri satu pengertian tentang sebuah cinta yang
tak kesampaian
Kau hargai satu cinta kasih
Kau buktikan tanpa menghinanya
Walau seringkali kau acuhkan dia yang menyayangimu
Kau berarti baginya
Kharisma didirimu
Dambaan hatinya”
——-
Aduhai gerangan sungguh beruntung yang mendapatkan cintamu
Dan ketika kau kutanya kenapa?
Dengan ungkapan pilu engkaupun berkata:
“Entahlah Akupun tidak tahu. Namun yang terpenting Dari
sekian banyak manusia, dari sekian banyak insan dunia
Bagiku…Dialah yang terindah…terbaik…, dan paling
mempesona…!” Pancarannya begitu tajam menghunjam!!
Sungguh tak ‘kan ada yang bisa menggantikannya Walau
dicari di belahan bumi manapun, tetaplah dia orangnya!!!
Aduhai…gerangan…perih nian yang kau rasa… Kalau
begitu baiklah… Kan kuajak dirimu terbang ke sebuah
tempat yang bernama “Negeri kesunyian” Kenapa ??? Karna
engkau butuh kesendirian untuk mengobati luka hatimu…
Kita tlah sampai…
Tak ada seorangpun yang akan mendengar perbincangan
kita… (Listen to me please!!! Dengarkanlah aku
baik-baik sahabatku…!!!)
Sahabat…
Tahukah engkau?
Manakala engkau telah merasa mencintai seseorang…
Itu sama artinya engkau t’lah menghamba padanya?…
Sadarkah dirimu?
Manakala engkau tahu ia tidak mencintaimu …
Itu artinya ia menunjuk pada kekuranganmu?…
Tidak terfikirkah olehmu?
Jika yang kau harap saja tidak bisa mencintaimu…
Apalagi Yang Menciptakannya???!!!…
Astafirughlaahul ‘aziim… Astafirughlaahul ‘aziim…
Astafirughlaahul ‘aziim… (Ucapmu seraya menjerit
tertahan… titik-titik embun menggenang di kelopak
matamu…mengalir perlahan…membasahi pipi…)
Menangislah…kalau itu yang membuat hatimu tenang…
Sahabat…
Aku bersyukur kepada Allah kau sadari kini
kekhilafanmu… Bahwa ter-amat sulit untuk menggapai
Cinta_Nya bisa engkau pelajari dari makhluk_Nya yang
bernama manusia… Karena itu…Perbaikilah segala
sesuatu yang ada padamu… Bangkitlah untuk menjadi yang
terbaik…
Sahabat…
Sesungguhnya yang ada padamu sudah ter-amat sempurna…
Rupa wajahmu adalah yang terindah yang kau miliki…
Namun?sinarannya belum terlihat…
Masih pudar dan perlu dibersihkan…
Dimana letaknya tersimpan di dasar yang paling dalam…
Sulit terjangkau?Itulah Qalbu (hati) mu…
Jika sinarnya telah mendekati kesempurnaan…
Kilaunya akan memancar ke luar…
Itulah namanya kecantikan/ ketampanan hakiki…
Sesungguhnya…
Seseorang mencintaimu tidaklah melihat dari kecantikan
(ketampanan) atau kekayaanmu…
Tetapi ia melihat pancaran yang ada pada Qalbumu…
Kenapa?
Karena kecantikan/ ketampanan akan sirna bersama
berlalunya waktu… Kekayaan akan lesap bersama
perputaran roda kehidupan… Sedangkan pancaran Qalbu
akan senantiasa abadi bersama ridha Ilahi kepadamu…
Namun satu hal yang harus kau ingat!
Tak selamanya cinta itu berati memiliki…
Ibarat Qalbumu…yang bebas bergerak tanpa bisa kau cegah…
Kenapa? Karena ia hidup sebagaimana arus air yang mengalir…
Engkau saja tak dapat memiliki hatimu, apalagi kepunyaan
orang lain? Yang berhak memilikinya adalah Allah…
Wahai sahabat… Bukankah sesuatu yang kau sulit
mendapatkannya sulit pula kau lepaskan? Demikianlah
seseorang itu di hatimu…
Bukankah seharusnya kau senantiasa menjaga kesucianmu?
Terutama Qalbumu…(Yang senantiasa wajib kau jaga
Kesuciannya)
Karena itulah…
“Kasih Tak Sampai” merupakan cermin bagimu …
untuk mengerti arti Cinta Sejati yang sesungguhnya…
Sesungguhnya Cinta dijadikan Allah indah di dalam Qalbumu…
Keindahannya akan kau temukan manakala kau
dapatkan hatimu mencintai Allah… Tak ada makhluk yang
sempurna di muka bumi ini kecuali diri_Nya…
Karena itu…
Laa tahzaan wa laa takhaaf (Janganlah sedih dan janganlah takut…)
Innallaaha ma’ana (Sesungguhnya Allah bersama kamu…)
Betapa dengan sayang_Nya Ia berkata:
“Thayyibaa tu litthayyibiina watthayyibuuna
litthayyibaati” Wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk
wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An Nur 24:26)
Wallaziina aamanuu asyaddu hubban-lillah
Orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada
Allah. (QS. Al Baqarah 2:165)
Yuhibbuhum wa yuribbuu nahuu
Dia (Allah) mencintai mereka dan mereka mencintai_Nya.
(QS. Al Maidah 5:54)
(Sebuah taushiyah dari adek,
Jazakumullah khaiir ya..)
September 17, 2008
Sekarang aku lagi jaga di Interna, jaga pertama kali, masih jadi junior, masih belum peka mana yang harus konsul cito mana yang enggak. Mana yang perlu diobservasi mana yang tidak, duuuh….. Trus tadi ada adek-adek klerrk juga, hehe….aku ga bisa jawab pertanyaan2 mereka, pinter2 ya adek2ku itu…jadi malu….
Sekarang aku kok sudah mulai ngantuk ya…padahal lho baru jam sepuluh malam…pasti gara2 ga latihan tidur larut malam sebelumnya
Tapi untunglah….ada devi….my best friend disini yang nemenin aku, jadi ada temen ngobrol, dan juga ngenet, hehehe…
Ya semoga nanti ada OB (pasien baru), tapi yang ga gawat n ga parah2 banget lah…dan semoga semua pasienku disini cepet sembuh…amiin…
Chemangat!!!!
September 17, 2008
Pernahkah merasa bingung, karena terlalu banyak yang sepertinya harus dilakukan, dipikirkan…
Meskipun pernah dapat materi tentang Fikih prioritas, tetap saja sulit mengaplikasikannya. Kenapa??? Lagi-lagi virus ”M”, males, adalah yang utama. Lalu yang kedua adalah banyaknya menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Nah, inilah susahnya, karena seringkali hal yang sia-sia itu menyenangkan.
Nonton tv, liat film, karaoke-an, ngrumpi, jalan-jalan ke mall, baca komik, pacaran, tidur dll. Hmm…menyenangkan bukan…
Dan hal-hal seperti itu biasanya yang menyita waktu, karena membutuhkan waktu banyak –namun tidak terasa-. Sedangkan kegiatan yang bernilai, dan mungkin merupakan kewajiban kita, seperti ibadah, belajar, menyelesaikan tugas dan pekerjaan, sebenarnya toh kalau sungguh-sungguh tidak akan menyita waktu sebanyak yang kita butuhkan saat melakukan yang menyenangkan itu. Tapi…godaannya, jauh lebih besar. Bosan, merasa masih punya cukup waktu (suka menunda), dan…malezzz.
Then, apa yang harus dilakukan???
Selalu harus me-refresh niat, menyusun kembali tujuan hidup, mengumpulkan impian-impian, mencari lingkungan yang kondusif dan bersemangat, sehingga kita dapat kecipratan semangatnya.
Semoga sisa Ramadhan ini dapat kita lalui dengan lebih baik dan tetap bersemangat ^-^
Keep fight!! Allahu Akbar!!
September 9, 2008
Begitu sulitnya menjaga semangat, semangat ibadah, semangat belajar, semangat beramal.
Begitu mudahnya terjangkit virus M, males, mualeess…..
Begitu entengnya menunda pekerjaan dan kewajiban.
Terasa tanpa beban bercanda, ngobrol tak bertujuan.
Hhh…padahal sudah sering membaca “faidzaa faraghta fanshab, wa ilaa Rabbika farghab” (“maka apabila kamu sudah selesai mengerjakan suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Rabb-mu lah hendaknya kamu berharap.” QS Alam Nasyrah: 7-8)
Ayo, tetep semangat!!!!